Bahaya Penggunaan Cairan Pembersih Kewanitaan Secara Berlebihan

Masalah keputihan merupakan permasalahan klasik pada kebanyakan kaum wanita. Tetapi ironisnya, banyak banyak yang mengganggap remeh karena mereka tidak mengetahui dengan pasti sebab dan akibat yang ditimbulkan dari keputihan. 

Salah satu penyebab umum yang dapat menimbulkan keputihan adalan berkembangnya bakteri, jamur, parasit atau virus di dalam vagina. Keputihan juga bisa menimbulkan rasa gatal, perih dan mengeluarkan baru yang tidak sedap. Karena kelalaiannya, keputihan yang awalnya biasa saja dapat berkembang menjadi infeksi yang berakibat fatal apabila tidak segera ditindak lanjuti dengan benar.

Salah satu cara untuk mengatasi keputihan yang paling sering dilakukan oleh banyak orang adalah dengan mencuci bagian daerah kewanitaan, atau lebih dikenal dengan istilah vaginal douching. Vaginal douching ini dilakukan dengan cara membersihkan bagian kewanitaan dengan cairan pembersih kewanitaan yang banyak dijumpai di toko atau apotek namun harus dengan resep dokter dan sesuai petunuju penggunaan.

Namun sebenarnya, menggunakan cairan pembersih kewanitaan untuk mengatasi keputihan tidaklah selalu efektif. Menurut Dr. M. Rezha Faisal, SpOG selaku spesialis kebidanan dan kandungan mengatakan, penggunaan cairan pembersih kewanitaan tidak harus digunakan setiap hari dan sebaiknya dipakai apabila ada instruksi dari dokter. 

"Sebetulnya yang lebih aman itu pencuci vagina khusus, karena pH nya rendah. Sering dipakai di dunia medis, biasanya dengan resep dokter," tuturnya ketika ditemui Wolipop pada hari Rabu (27/08/2014) di bilangan Bekasi.

Tetapi sebaliknya, apabila vagina terasa gatal, ia menganjurkan untuk menggunakan cairan pembersih kewanitaan yang aman atas anjuran dokter. "Kalau vagina gatal akibat keputihan sebaiknya jangan digaruk. Akibatnya nanti luka lecet dan iritasi. Apalagi kalau tangannya tidak bersih bisa menimbulkan infeksi baru," ujar dokter lulusan Universitas Sriwijaya ini. 

Selain itu, antibiotik juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keputihan. "Antibiotik sebetulnya bukan untuk menghilangkan rasa gatal, tetapi untuk membunuh kuman atau bakteri yang menimbulkan keputihan," tambahnya lagi.

Lebih lanjut, dokter 36 tahun ini juga menganjurkan untuk menggunakan cairan pembersih kewanitaan yang pH atau tingkat keasamannya sesuai dengan pH di dalam daerah kewanitaan. Normalnya, pH berkisar antara 3,8 sampai dengan 4,2. Jika pH kurang dari 3,8 biasanya jamur akan tumbuh. Apabila pH lebih dari 4,2 maka akan tumbuh bakteri dan kuman penyebab infeksi.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat keasaman pada vagina, seperti menstruasi, cairan sperma, vaginal douching dan bahkan kebiasan buruk seperti malas mengganti pakaian dalam hingga menggunakan pakaian yang terlalu ketat.

Pada vagina, terdapat bakteri alami bernama lactobacillus yang tinggal di dalamnya. Dengan menggunakan cairan pembersih kewanitaan atau air rebusan daun sirih, hal ini justru akan mengganggu tingkat keasaman di dalam vagina dan berpotensi untuk membunuh bakteri lactobacillus. Apabila bakteri ini mati, tidak ada yang menjaga daerah kewanitaan dari bakteri lain yang mengganggu sehingga sangat berpotensi untuk menimbulkan infeksi karena tumbuhnya kuman yang lebih berbahaya.

Sumber : wolipop


TDM Menstabilkan PH mis V anda. klik gambar untuk mengetahui lebih lanjut