Semakin Sering Bercinta, Suami Istri Makin Bahagia?

Bercinta, seperti diungkapkan oleh banyak riset, disebut sebagai aktivitas yang menyenangkan dan menyehatkan untuk pasangan. Aktivitas bercinta, salah satu manfaatnya, bisa menurunkan tingkat stres seseorang. Apakah itu artinya ketika seks semakin sering dilakukan orang tersebut bisa semakin bahagia?

Dalam penelitiannya berjudul 'Sex and the Pursuit of Happiness: How Other People's Sex Lives are Related to our Sense of Well-Being', Tim Wadsworth mengungkapkan mengenai manfaat seks ini. Profesor di Universitas Colorado Boulder itu menemukan bahwa pasangan yang bahagia memiliki frekuensi bercinta yang sering juga. Sebaliknya, pasangan yang jaran bercinta, tingkat kebahagiaannya pun lebih rendah dibandingkan mereka yang sering berhubungan intim.

"Lebih sering bercinta membuat kita bahagia, tapi dengan memikirkan kita bercinta lebih sering dibandingkan orang lain juga bisa membuat kita bahagia," kata Wadsworth menyimpulkan seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Seperti dijelaskan Wadsworth, sering atau tidaknya seks ini dilakukan tergantung definisi pasangan masing-masing. Ada pasangan yang merasa bercinta tiga kali seminggu sudah dianggap sering, ada juga yang menyebut seks empat kali seminggu barulah bisa dikatakan frekuensi bercinta tinggi.

Seperti dikutip CNN, dalam risetnya Kinsey Institute mencatat frekuensi bercinta seseorang ini berbeda-beda tergantung dari usia. Mereka yang berusia 18-29 tahun, rata-rata berhubungan seks 112 kali dalam setahun atau 2 kali seminggu. Sedangkan pasangan berusia 30-39 tahun rata-rata bercinta 86 kali setahun atau sekitar 1-2 kali seminggu. Dan pasangan dengan usia 40-49 tahun bercinta 69 kali setahun atau sekitar 1 kali seminggu.

Hasil riset Kinsey itu menunjukkan seiring pertambahan usia frekuensi bercinta semakin menurun. Apakah artinya pasangan jadi semakin tidak bahagia karena makin jarang bercinta seiring usia bertambah? Tentu tidak.

Matty Silver, seks terapis asal Australia mengatakan, sebuah pernikahan bisa dikatakan memiliki kehidupan seks yang rapuh ketika aktivitas bercintanya kurang dari 10 kali dalam setahun. Ditambahkannya, ketika pasangan tidak sering bercinta belum tentu juga hubungan mereka dikatakan bermasalah. 

"Selama masing-masing pasangan puas dengan frekuensi seks yang dilakukan hubungan itu tidak bermasalah," katanya.

Hanya saja dari pengamatan Silver sebagai terapis, dia melihat ketika pasangan berhenti bercinta, hubungan pernikahannya bisa tergerus oleh perasaan marah dan kekecewaan. Hal ini bukan tidak mungkin berdampak pada hancurnya pernikahan dan berakhir dengan perceraiaan.


sumber : wolipop